Minggu, 18 Februari 2018

Hari Setelah Kemarin

Hari selalu berganti, yang kemarin kemudian sudah berlalu lantas berganti menjadi hari ini, pergantian tersebut secara jam hanya terus menunjukkan bumi ini berotasi terhadap matahari sehingga yang membedakan antara kemarin dan hari ini yakni terbenamnya mentari pertanda malam pergantian lalu terbitnya matahari sebagai tanda bergantinya hari kemarin menjadi hari ini.

Tapi bukan persoalan bagaimana hari berganti dari peredaran matahari yang bisa kita saksikan setiap harinya, namun selama 24 jam dalam 1 hari, ada banyak sekali kejadian yang membuatku tak semudah itu melupakan layaknya pergantian malam ke pagi hari.

Hari kemarin, tanggal 14 februari aku diundang untuk datang ke rumah dia, karena orang tuanya ingin bertemu denganku sebelum dia berkunjung ke rumahku esok lusa. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh orang tuanya kepadaku, mereka cukup baik menyambutku, dengan gaya mereka tentunya, dan aku menerima semua itu, buatku itu tidak masalah. Aku ditanya tentang kemantapan hatiku dengan dia, apakah aku bersedia tinggal di kota ini jika kami menikah nanti, apakah orang tuaku menerima kondisi keluarga dia dengan segala konsekuensinya, dan tentunya apakah aku menerima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya, semua pertanyaan itu bisa kujawab dengan tenang, meski hati ini kerap bergetar saat ditanya perihal kemantapan, ku masih gentar menatap mata ibunya yang mencoba mencari jawaban lewat sorot mataku saat bertanya soal kemantapan, bismillah aku menjawab insyaAllah. Pertemuan itu selesai, aku lega sekaligus bersyukur, aku hanya berharap mereka pun menerima kondisiku apa adanya, beginilah aku dengan segala kekuranganku.
Lalu hari kemarin pula tanggal 16-17 februari 2018 adalah hari yang melegakan bagiku, satu langkah  membawa dia ke rumah untuk sebuah "tujuan" sudah aku lakukan, lega, bahagia meski dengan berbagai kekurangan dalam menyambutnya, tapi aku bersyukur karena orang tuaku menyambut baik niatnya, sebuah kelegaan sekaligus tanggungjawab yang harus benar-benar diseriusi, ini bukan permainan.

Kemudian, sebelum hari itu, kusebut hari kemarin..aku selalu masih saja mengingat hari-hari kemarin sebelum hari kemarin. Kejadian demi kejadian, kegoyahan hatinya, kemunculan orang lain dalam hubungan kami, tidak mudah untuk aku tepiskan begitu saja. Sejujurnya aku bahagia, namun entah mengapa seperti ada hal yang masih mengganjal di hatiku tentang dia, berbagai pertanyaan yang muncul seiring terbukanya jalan ini, perasaan-perasaan tersakiti yang kadangkala masih terkoyak saat melihat orang lain itu menunjukkan dirinya yang aku rasa berkaitan dengan dia, aku merasa masih ada sesuatu entah dari dia kepada orang lain itu atau antara orang lain itu terhadap dia. Masih timbul ketakutan akan terulangnya kejadian itu, betapa aku merasakan dia begitu berubah  terhadapku karena munculnya orang lain, sikap yang acuh, terkesan kasar dan sungguh seperti orang lain, masa-masa itu adalah pengalaman rasa yang begitu menyiksa batin, aku tak bisa menggambarkan rasa itu, apakah trauma atau entahlah  pada intinya aku takut hal itu terjadi kembali. Aku paham setiap orang selalu punya salah, akupun begitu, dan setiap orang punya kesempatan kedua begitu pula dengan dia, tapi entah mengapa rasa percaya ini masih ragu untuk menetap kembali kepadanya, apakah aku masih belum bisa memaafkan dia ? atau aku belum bisa memaafkan diriku sendiri ? ataukah aku belum ikhlas dalam memaafkan dia maupun diriku sendiri sehingga hal ini masih saja bersarang di ingatanku ?

Setiap kali aku melihat orang lain itu  menunjukkan keberadaanya di sosial media tertentu, rasa curiga itu selalu muncul dan mengarah pada dia, sungguh kejam pikiranku, pikiran manusia selalu kejam, dia bisa membunuh orang lain tanpa diketahui siapapun, menyiksa dengan prasangka dan menghancurkan hati nurani karena asumsi. Apakah aku ini pendendam  sehingga hal ini masih saja membuatku sakit dan menangis ? apakah hal itu masih terjadi di belakang sana sehingga firasat ini selalu saja tak tenang dan sedih saat mengingatnya ? aku termasuk orang yang mudah memaafkan, bagiku masalah tak benar-benar merupakan sebuah masalah, hanya ada ketidakpahaman persepsi saja, dan semua itu akan baik dengan sendirinya seiring waktu. Aku tak tahu mengapa masalah ini sungguh terasa menyakitiku menbuatku berpikir aku tak pernah benar-benar yakin saat ini, seperti sebuah keniscayaan untuk mempercayai manusia, sungguh aku ingin tenang, ingin kembali mempercayai, ingin kembali setulusnya kepada dia, seperti sedia kala, tapi rasanya itu sulit. Sulit untuk kuterima maupun kusampaikan, inginku dia mengatakan yang sesungguhnya terjadi dan menyesalinya di depanku, entah mengapa aku masih saja berkeinginan begini, salahkah ? wajarkah ? kuharap dia paham mengapa kuingin begini

Hari ini selalu berisi kesempatan yang baik untuk berubah bukan ? apakah aku harus kembali mengalah pada rasa ini ? rasa belum bisa menerima sebuah pengakuan atau mengikhlaskan kesalahan itu pernah ada di hubungan kami ? aku khawatir jika mereka saling bertemu dengan segala sesuatu yang hanya mereka berdua ketahui, aku mengkhawatirkan disaat hari-hari baru yang sedang susah payah kucoba untuk ikhlas tapi di belakangku mereka mengulang hari-hari kemarin yang buatku menyakitkan bahkan hanya untuk sekedar membayangkannya. Sebesar apa hatiku hingga Engkau menitipkan masalah ini kepadaku ya Allah ? akankah hari kemarin itu benar-benar bisa kuikhlaskan agar aku bisa benar-benar mengambil hikmah dari semua hari-hari kemarin itu ...

Kamis, 30 November 2017

Tertinggi dan Terjatuh

Aku menjamin, kau tak pernah menemuiku sedang duduk memandang laptop ditemani secangkir vietnamese drip yang tersisa setengah cup..

Aku menjamin, kau tak pernah menemuiku bersama dalam satu proyek pekerjaan yang menjadikanmu mengagumi segala gelak lincah saat mengerjakan sesuatu..

Aku menjamin, kau tak pernah menemuiku dalam satu media cetak dimana namaku tercetak bersama denganmu disana...

                Iya...kau tak akan pernah menemuiku disana, karena kau tau bukanlah diriku yang bisa kau temui di situasi seperti itu.

 Kita adalah dua insan yang berbeda, begitu banyak hal yang berbeda, hingga kita merasa inilah keindahannya, karena kita dapat saling melengkapi. Tapi apakah aku harus menjadi penyuka kopi tuk bisa kau kagumi (lagi) ?

Aku...menemuimu, saat kau..sedang terluka kala itu...menatap dengan kehampaan gemerlap malam dan canda tawa yang kau lewati sekedar menyematkan lalu kembali pergi bersama alunan musimk Didi Kempot yang menyibak luka hatimu kala itu..

 Semangatmu menyurut dan ceriamu menghilang, aku menemuimu saat kau sedang terpuruk kala itu, di sela-sela harapanmu  luluh karena pengkhianatan, kala itu aku tak mengerti sesakit apa hatimu..inginku hanyalah menjadi orang yang bisa mendengarkanmu, pun sebelumnya kita tak pernah saling tahu. Persahabata yang tak pernah saling mengenal..hanya saling tahu  

Serangkaian kisah yang bermula darisana membuatku tenggelam untuk menelusuri liku hidupmu, mengikuti alur kisahmu, menjadi bayangan yang tak pernah terlihat orang lain, menyimpan segala suka maupun duka. Waktu yang tidak sebentar untuk bisa membersamaimu, waktu yang penuh dengan kisah suka maupun duka, terlampaui dalam sunyi.
Sunyi...pergerakan yang tersembunyi, langkah yang tertata hati-hati, mencuri dan mencari cara untuk bisa saling memandang..meskipun dari jauh. Hal-hal kecil yang pernah tersemat dalam perjalanan ini sangatlah biasa, sebatas kertas, pita, kaleng minuman, atau bahkan gambar dalam debu. Mungkin kita terlalu receh merayakan kebahagiaan kala itu, sungguh tak terbayangkan bisa bertahan dengan semua itu. Bayangkan bagaimana kita menjaganya dengan hal-hal yang sangat sederhana, dengan sesedikit cara itu kita membangun halaman belakang, ingatkah bagaimana kita dengan kekanakan membayangkan masa tua duduk disana ? kepingan kesabaran selalu menjadi puing yang kita kumpulkan bersama ditengah derunya keinginan untuk mengutuhkan satu sama lain, dan kita masih kuat sampai saat itu.
Aku menemuimu, dikala semua percakapan tentang hati adalah kesakitan yang nyata...hingga setiap percakapan kita bertemu dibawah rembulan, menyaksikannya dengan begitu indah menyinari malam stasiun kala itu. Percakapan yang sangat biasa, hanya membicarakan bagaimana aku menyukai wedang jeruk dan kau menyenangi es teh...sesederhana itu kita bisa bertahan hingga saat itu.  Aku ingat bagaimana genggaman tangan malam itu seakan erat, seerat keyakinan yang mendadak tersalur lewat jari jemari yang saling bertemu ditengah penantian lampu hijau ..
Perlahan tanggal 22 selalu bergeser hingga lembar paling belakang dan tahun pun berganti, kisah-kisah kita diwarnai cerita lalu lalang yang kadang menjadi bahan perbincangan kita dikala senggang, hingga aku kini yakin bahwa kau adalah orang itu, sampai saat itu aku masih merasakannya dengan sangat jelas.
Kau dan aku tumbuh menjadi orang-orang yang memiliki jalan berbeda, selalu saja berbeda dan kita tak pernah membedakan semua itu, kita tak pernah membandingkan sekalipun tak pernah memiliki kesamaan. Entahlah kami hanya merasa saling melengkapi, rasa itu masih ada hingga saat itu.
Perlahan ocehanku menyepi, hal-hal kecilku berkurang dan kata manja kanak-kanakanku memudar karena perkerjaan yang sedang menyita perhatianku, dan mendadak kau mencarinya, ku kira kau merindukannya, ternyata kau tengah ‘sakit’ kala itu...
Pengakuan yang menggetarkan hatiku, sangat menyayat perasaanku, membuyarkan mimpi yang sedang mengambang indah dipikiranku sore itu, hari minggu sebulan sebelum tanggal ulang tahunmu,
Sampai saat itulah, aku sungguh tak bisa mengetahui hatimu sedang dimana, dibawa kemanakah tempat nyamanku itu dipindahkan ? ataukah siapa yang kau hadirkan untuk menempati barang sebentar kursi nyamanku disana ? singgasana yang selalu kau jaga itu nyatanya sempat hadir seseorang. Jika saja kau tahu, bagaimana aku menjaganya untukmu, tak ada seorangpun yang pernah mengetuknya ...

Jika saja kau tahu, kata maaf darimu selalu kusambut dengan lapang, kesalahnmu selalu kutabur dengan kebaikanmu agar ku tak lupa mensyukuri hadirmu, ketidakhadiranmu selalu kulebur dengan keikhlasan-keihlasan agar aku tak pernah membandingkanmu dengan orang lain, kekuranganmu selalu kulengkapi dengan penerimaanku, agar aku paham kita ini dua insan yang melengkapi. Lantas bagaimana kini ? bagaimana saat rasa percaya tertinggiku padamu jatuh terjun bebas melesat menuju lembah kekecewaan ...


Kali ini terasa sulit, sungguh aku membutuhkan bantuanmu keluar dari lembah ini...

Selasa, 11 Juli 2017

Kepercayaan itu Perlu di Up Grade

Kepercayaan terhadap pasangan adalah hal yang oleh sebagian pasangan menjadi kriteria dasar berjalannya sebuah hubungan, tentu itu adalah hal yang penting untuk disepakati ya ?
Kepercayaan juga sering menimbulkan konflik dalam sebuah hubungan, karena hal tersebut sangat sensitif, sebuah keadaan yang tidak bisa disaksikan, tapi menyangkut penerimaan seseorang atas hal yang nyata. Jadi, dalam kepercayaan itu hati dan logika bermain, namanya bermain kadang jadi akur dan kadang ya hancur, itu wajar.

Sebagian orang mendefinisikan konsep kepercayaan itu hanya ada dua, yakni percaya dan tidak percaya. Padahal, jawaban percaya dan tidak percaya biasanya hanya akan dikelola oleh salah satu bagian paling naluriah, yakni dimana saat menjawab “percaya atau tidak percaya” bagi perempuan adalah dengan pertimbangan perasaan sedangkan bagi laki-laki untuk menjawab “percaya atau tidak percaya” adalah dengan pertimbangan logika. Kalaupun ada yang mengkombinasikan keduanya, itu pasti orang yang sudah sangat mengenal betul pasangannya dan saling menemukan tipikal ideal dari harapan masing-masing.

Tapi......gak ada pasangan yang benar-benar ideal kan?? Pernah gak kita melihat orang tua kita seakan tidak bisa mengandalkan satu sama lain di suatu bidang? misalnya ibu tidak percaya ke bapak saat pergi belanja, atau bapak gak percaya saat ibu berkendara menggunakan motor sendiri dan hal-hal kecil lainnya ? dari sini kita tahu bahwa kepercayaan adalah hal yang bisa dipelajari. Kepercayaan itu sangat luas, karena hubungan dua insan manusia itu sejatinya sangat kompleks dan dinamis, jadi kalau dibilang kepercayaan itu perkara perasaan aja, itu tidak benar, tapi tidak bisa disalahkan juga karena itu termasuk di dalamnya.

Kepercayaan bukan hal yang diberikan begitu saja tanpa ada pertimbangan, saat kita melihat orang 
tua kita yang sudah tenang menghadapi berbagai hal dengan pasangannya adalah karena level kepercayaannya sudah meningkat. Bagaimana bisa meningkat ? tentu prosesnya panjang. Kepercayaan itu seperti pengetahuan, dia harus dipelajari, dianalisa kemudian disimpulkan. Agar perempuan dan laki-laki menemukan frame yang sama, satu konsep kepercayaan ini harus di-filter menggunakan sudut pandang perempuan dan laki-laki, yakni perasaan dan logika, keduanya harus sinkron, baru kemudian kepercayaan itu akan kaya dengan struktur mental yang kuat. Kenapa si repot gini ? iya dong, saat Anda berada pada titik tidak percaya, tentu itu akan sangat membuat gelisah, kemudian dengan sendirinya Anda akan mencari cara untuk kembali percaya dengan pasangan Anda. Semakin banyak stok pengetahuan Anda tentang pasangan Anda, akan lebih mudah bagi Anda dalam memberikan kepercayaan itu kembali. Makanya sering kita temui pasangan yang curigaan, seseorang yang begitu trauma terhadap komitment, atau seorang yang bisa memiliki selingkuhan ? semua adalah berawal dari kepercayaan.

Kepercayaan itu perlu di- up grade, seperti anti virus yang melakukan proteksi terhadap gadget kita, dia akan selalu menyesuaikan dengan perkembangan virus, dan sebelum melakukan up-grade tentu ada kesepakatan antara vendor penyedia layanan anti virus dan si pengguna gadget untuk menyetujui beberapa hal yang menjadi syarat untuk berjalannya sistem tersebut. Pun, sama dengan pasangan, kita gak boleh memasang kepercayaan level 3 kepada tingkat risiko pasangan kita berada di level 7, harus di-up grade biar aman. Jadi... kadang kita menemui pasangan kita berada di titik curiga, iya tentu, setiap pasangan baik laki-laki maupun perempuan punya sisi itu, dan itu memang perlu. Pada titik curiga, adalah saat dimana pasangan kita sedang menuju proses up grade kepercayaan mereka, proses ini berkaitan dengan penerimaan yang harus dilalui dua frame tadi (perasaan dan logika), butuh komunikasi untuk menyampaikan berbagai hal seputar “kecurigaan” tersebut, mulai dari pengetahuan tentang hal tersebut, emosi dan konklusi yang diambil. Kegagalan proses ini sering terjadi karena pasangan sudah merasa “tidak dipercaya lagi”, dan biasanya bereaksi dengan berhentinya komunikasi yang semestinya terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan stok pengetahuan yang dibutuhkan pasangannya. Proses ini memang akan melibatkan unsur emosional dan juga rasional, jadi rentan akan kegagalan menemukan solusi, padahal saat tercipta konklusi yang tepat, pasangan akan berada pada level kepercayaan yang baru dan mereka akan lebih tenang menghadapi kejadian serupa. Proses up grade kepercayaan akan memperkaya kualitas kepercayaan, jadi kita akan merasa aman bukan hanya karena kita sudah “percaya” pada pasangan kita, tapi kita sudah paham betul kadar kepercayaan yang kita miliki ke pasangan kita itu seperti apa. Hal itu akan berdampak pada hal-hal teknis yang sering terjadi di sekitar kita nanti, dan semestinya akan merubah pola komunikasi kita ke pasangan menyurut ke arah yang lebih santai.


Soal kepercayaan antar pasangan, jangan dikira mudah, kita mempercayai orang yang tadinya bukan siapa-siapa dan kemudian ada banyak hal yang membuat kita harus percaya, tapi...untuk suatu komitment yang dilandasi cinta dan keimanan, tentu rasa percaya bisa diolah sedemikian rupa untuk hal yang baik bukan J. Jangan hanya berpikir karena dia percaya pada Anda, karena hal itu akan menciptakan kesan kepercayaan yang diberikan oleh dia itu tidak terbatas, dan itu bisa membuat Anda lupa diri untuk tetap waspada. Cobalah berpikir sebaliknya “Aku dipercaya oleh dia” ini akan memunculkan efek tanggungjawab yang berbeda dalam menjaga diri sendiri, memberikan apresiasi dan tentunya sempatkan untuk menyematkan hal-hal kecil yang manis di sela-sela kesibukan masing-masing J

Minggu, 09 Juli 2017

Sahabat itu Nyata



Entah sejak kapan aku merasa tak pernah memiliki teman yang dekat, sahabat. Sejak saat aku tahu sahabat dekatku berkhianat padaku, sejak itu aku merasa tak perlu lagi bersahabat dengan siapapun. Aku merasa tak ada lagi orang yang bisa dipercaya untuk menjadi sahabat, tapi aku salah. Aku sesungguhnya tak pernah tahu bagaimana perasaan orang yang bersahabat denganku, akankah mereka nyaman atau tidak. Sepanjang waktu, aku bertemu dengan semakin banyak orang, tak terasa, arti sahabat kemudian kembali muncul di hidupku.

Saat aku kuliah S1, ada seorang teman yang awalnya biasa saja, dia baik dan perhatian, serta lembut, aku ingat hampir berbagai masalah yang aku bagi dengannya, bahkan aku pernah menangis di kampus, dan disaksikan olehnya, moment yang sangat menyentuh. Aku bersyukur sekali memiliki sahabat seperti dia. Jarak mungkin memisahkan kami berdua, dan komunikasi hanya kami lakukan di waktu tertentu saja, tiada kata saling mengekang dan mengikat persahataban, semua mengalir begitu alami. Dia selalu menceritakan berbagai hal kepadaku, bukan hanya tentang dia, tapi juga tentang teman-teman sekitar kami, banyak yang tidak menyangka aku tahu banyak hal karena aku sesungguhnya adalah orang yang tidak peka, tapi dia menceritakan banyak hal kepadaku, sampai aku disebut sebagai ‘tong sampah’ nya. Saat ini...dia tetap menjadi orang yang bisa mengerti saat aku berkeluh kesah kepadanya.  Kini, dia sudahbekerja, kembali ke kota asalnya dan kami belum pernah bertemu lagi.

Saat aku kuliah S2, ada seorang teman, dia kakak tingkatku waktu S1 dan aku memang belum  mengenalnya saat itu.  Aku mengenalnya dengan baik, dia banyak bercerita kepadaku, meskipun kami adalah dua orang yang sangat berbeda, namun tak tahu mengapa semua terasa begitu kompak. Kami sering berdiskusi bersama, mengerjakan tugas bersama, menyusun tesis bersama, perpustakaan menjadi tempat favorit kami, bukan hanya untuk mencari referensi yang kami butuhkan, juga untuk saling bercerita tentang berbagai masalah yang kami rasakan. Kami punya kesamaan, yakni hobby makan mie ayam dan suka makanan pedas. Pertemanan yang begitu menyenangkan. Hingga suatu saat, aku tahu hal yang begitu besar dalam hidupnya, seputar keluarganya. Ini membuatku sangat terkejut, tapi aku senang, dia percaya padaku untuk menjadi ‘tong sampah’ nya. Aku tak tahu sejak kapan kemudian keadaan berupah, ada jarak diantara kami, ada sesuatu yang terjadi pada persahabatan kami, dan aku tak tahu apa yang terjadi disana. Aku merasa sangat menyayangkan ini terjadi, aku tak suka keadaan ini, aku tak tahu apa yang membuatku harus diperlakukan seperti ini. Aku berharap kami bisa kembali seperti sediakala..sahabatku

Semasa di kost, ada seorang teman, aku tahu dia sejak SMA, hanya saja aku tidak mengenalnya, awalnya aku merasa tidak bisa dekat dengannya, karena kami sangat berbeda. Mungkin karena kami satu kost, perlahan kami mulai saling dekat dan terbuka, dan akhirnya jadi sahabat baik. Dia orangnya humoris, suka makan mie ayam dan perhatian. Dia paling tau saat aku sedang sakit perut di hari pertama setiap aku haid. Meskipun gayanya kocak, tapi aku senang dia selalu ingat itu dan membelikanku makanan tiap aku sedang terkapar, dia sebut aku sedang ‘rohingya’ (sebutan yang aneh). Hal-hal aneh sering terjadi justru saat bersama dengannya, hal gila, tertawa lepas, dan aku jadi diri sendiri. Kami pernah ke Semarang tanpa rencana, pulang kehujanan, dan dia adalah pengendara sepeda motor yang handal, dia selalu tau saat jupe (sepeda motornya) sedang dalam keadaan yang tidak baik. Aku merasa nyaman dengannya, apapun aku ceritakan kepadanya, pun sebaliknya, aku ingat bagaimana dia sampai menangis saat menceritakan hubugannya dengan seseorang. Aku merasa sangat kesepian, karena dia sekarang sudah di rumah, meskipun kami masih bisa saling berkomunkasi, tapi aku lebih senang saat dia ada disini. Aku senang menjadi ‘tong sampah’nya, banyak hal kami bicarakan bersama, tentang cinta, kuliah, pekerjaan, lingkungan dan semuanya. Aku rindu berbicara dengan orang seperti dia.

Entahlah, aku merasa kesepian, karena belum ada lagi orang yang bisa menyamanku seperti mereka. Ada seseorang, dia mungkin nantinya akan jadi orang yang menjadi sahabatku untuk selamanya,. aku ingin merasakan ini dengannya, tanpa keraguan, rasa canggung maupun malu. Aku ingin menjadikannya sahabat, tapi aku tahu, dia berbeda, dia bukan perempuan yang memiliki sudut pandang sama denganku, dia bukan orang yang punya waktu banyak karena dia bekerja,  dia orang yang tidak bisa selalu hadir karena rumahnya jauh. Tapi aku butuh dia, aku merasa butuh dilindungi, diperhatikan dan butuh penguatan. Aku merasa sangat kacau tanpa seorang sahabat. Aku paham, mengapa sahabat itu begitu penting untuk seorang perempuan, karena hatinya rapuh. Perempuan selalu membutuhkan kenyamanan, karena perempuan adalah sosok lembut yang tak bisa sembarang tempat dia tempati. Perlahan aku menyadari, bahwa kunci kenyamanan adalah jadi diri sendiri. 
Kau tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan sahabat, jadilah diri sendiri..kau tau, ternyata paling sulit adalah menjadi diri sendiri. Kadang aku berpikir, apakah dia menerima kondisiku yang seperti ini, apakah mereka mengerti apa yang aku lakukan, apakah kalian mau bersahabat dengan orang seperti aku ? itulah pikiran yang selalu menghantui saat menjadi diri sendiri, sehingga kadang kita menjadi versi lain untuk bisa diterima di suatu lingkungan.


Menerima kondisi baru pun tidak mudah, harus menyesuaikan lagi, menata kembali diri ini, namanya pertemuan dan perpisahan adalah satu pasang kepastian. Kita tak bisa mengelak, menolak apalagi mengutuk semua itu, kita hanya perlu tahu bahwa selalu ada kebaikan disetiap pertemuan dan perpisahan. Konflik, ketidaksepahaman, atau bahkan kebencian, selalu ada dalam setiap pertemuan tapi semua itu tak pernah bisa memisahkan segala kebaikan, kegilaan, keseruan, kenangan yang pernah terjalin bersama. Bersahabatlah, karena kau membutuhkannya, kau tidak pernah bisa hidup sendirian.. 

Kamis, 06 Oktober 2016

Sepasang Takdir untuk Sepasang Manusia

Haii dirimu yang tentunya bukan Dilan-ku, karena aku bukan Milea
Haii kepadamu yang tentunya bukan Romeo, karena aku bukan Juliet
Dan kepada hati itu yang tentuya bukan Zainudin, karena aku bukan Hayati

Kau, tetaplah kau dengan aku yang tetap menjadi aku
Tapi, aku sadar, harus ada yang berubah setelah semua hal selalu sama 
Mungkin aku yang merasa kau berubah, karena aku selalu sama.

Benar atau tidak, di Solo kini hampir selalu hujan, dengan hujan yang berbeda, hujan yang lebih menderu
Membuat Solo yang biasanya Ngangeni, kadang jadi Medeni . Solo itu nyaman, hingga aku terlena kenyamanannya, membuatku lupa bahwa dibalik nyamannya Solo, ada pribadi yang berpeluh disana, berperang dengan semua hal diluar kenyamanan, bahkan mungkin dia tak merasa sedang di Solo, begitulah kira-kira

Kata yang mengejutkan malam itu adalah sebuah tamparan bagiku, tentang bagaimana semua ini akan berjalan, tentang bagaimana sebuah keputusan dijatuhkan, tentang kebimbangan-kebimbangan yang harus segera aku pilih. Mungkin cinta selalu begitu, cinta selalu menuntut. Menuntut untuk menikah.
Heii, menikah, iya itu indah bukan? 
Menikah adalah tuntutan sekaligus tuntunan agama bukan? bukankah Agama adalah pedoman hidup, maka apa yang menjadi tuntunan di dalamnya, tentu menuntut untuk dilaksanakan, dan tentunya tuntutan ini akan dipenuhi atau tidak tergantung pelaku agamanya. Semua orang adalah pelaku agama, karena selalu saja ada pelaku yang baik dan tidak. 
Ahh jadi melebar, aku hanya membagi pelaku menjadi dua situasi (baik-buruk) 
tapi tidak dengan agama, agama selalu benar karena dari Nya yang Maha segalanya

Menikah, iya, bagaimana kini aku menahan berbagai rindu lalu terus bertemu
Menikah, iya, saat dimana kepenatanku tak lagi bisa aku pendam, tapi harus aku utarakan
Menikah, iya, saat itu saat dimana kebahagian-kebahagiaan ideal setiap pasangan diuji di ring nyata
Menikah, iya, waktu dimana aku akan menangis sejadi-jadinya bersama dia
Menikah, iya, bagian dari hidup saat benar-benar menggila bersama dia

Dia, saat ku bicara tentang dia, hanya ada bayangannya, dia lagi, dia lagi, terlanjur mengisi rongga imajiku, membuatku selalu menghubungkan dia dengan pernikahan.
Aku ingin, tentu aku sangat ingin bersama dia, hanya saja ada yang sulit aku jelaskan dengan semua ini, tentang bagaimana aku dan dia akan bersama
Ada berlapis-lapis proses yang harus kami hadapi, saat aku mulai mengerti bagaimana sesungguhnya dia sebelum waktu yang sesungguhnya itu terjadi. 
Aku tengah dalam ujian dunia yang dia buat untukku.
Hanya saja aku merasa dia berbeda, tak lagi nyaman namun aku tetap rindu
Sikap yang dibuatnya membuatku gentar dan menahan sejuta rindu untuk aku katakan
Aku merasa dia begitu tinggi, dan aku tak sedang beriringan dengannya
ohh sungguh ini terasa jauh..membuatku sulit menjangkaunya meski hanya sebatas rindu.

Beginikah saat kau menuntut, membuatku tak bisa untuk tidak menurutinya, ahh apakah demikian ini jalanku ya Tuhan? apakah aku ini adalah tuntutannya untuk memenuhi tuntunanMu ?
Aku begitu bingung ya Tuhan, bagaimana dan darimana aku memikirkan semua ini.
Bagaimana satu kesempatan itu akan dipertaruhkan. Kenapa hanya ada satu kesempatan jika dia memang cinta ? bukankah cinta tak paham artinya jumlah? dimana satu selalu bisa bermakna satu di hari ini, satu lagi hari esok, dan seterusnya ?
Dari semua ini aku tahu, cinta itu tak pernah bisa menunggu
Cinta selalu terburu-buru, 
Terburu-buru ingin mengejar, memiliki, menemani, dan menikahi
Itulah kejamnya cinta, membuat cinta tampak garang bak preman..
Ohh Tuhan, apa sebenarnya jodoh ?
Aku bukan dipusingkan oleh cinta, karena selamanya cinta tak bisa dipikirkan
Aku hanya dibuat penat oleh jodoh, 
Jodoh membuat cinta tak mesti bersama
cocok tak mesti serumah, restu tak mesti menyatu, lama tak mesti bersanding, dan  dia tak mesti suamiku? 
Ohh Tuhan..aku begitu bertanya-tanya akan semua ini... ada apa dibalik semua ini ? tentu ada dua hal.
Karena semua hal didunia ini diciptakan berpasangan bukan?
Aku dan kau, adalah sepasang manusia yang sedang mengarungi berpasang-pasang kemungkinan di dunia ini, hanya ada sepasang jawaban untuk kita, pula hanya ada sepasang keputusan hingga sepasang takdir untuk kita... (kau memilikiku, aku memilikimu) 

Rabu, 31 Agustus 2016

Kau Selalu Menang

Di penghujung agustus tahun 2016 ini, aku berwajah muram.
Bermula sejak semalam dan malam-malam sebelumnya dengan kerinduanku yang tidak bisa diungkapkan, bahkan hampir hilang harapan atas rasa itu.
Namun malam tadi semua itu membuncah seketika, rindu yang begitu dalam hanya bisa bertemu dalam waktu 1 jam, di motor dan hujan. Syahdu mungkin bagi sebagian orang, namun bagiku, pertemuan ini hanya menjadi pemicu rindu yang lebih besar lagi.
Aku tahu, betapa sibuknya dirimu membuatku tak sempat meluangkan waktu untukku, untuk kita berdua. Bahkan sering pula kau tak menghiraukanku, memberi kabar seadanya, dan jarang sekali memperhatikanku.
Aku merasa kesepian dengan semua kesibukanmu, dan caramu memperlakukanku dengan tidak perhatian, kau selalu bilang aku itu orang yang bisa diajak mengerti dengan semua kesibukan dan keadaanmu.
Kau benar, tapi kau juga keliru.
Aku bisa mengerti, tapi tak selamanya selalu bisa berlaku sama padamu.
Kau selayaknya pasanganpun seharusnya memberikan hal yang sepadang dengan apa yang sudah kau dapatkan dariku.
Bukan ku tak tulus, namun tentunya kau tahu namanya perasaan tidak bisa dibiarkan begitu saja, dia bisa hilang atau tumbuh ditangan orang selain kau.
Tentunya kau paham, bahwa sepasang kekasih semestinya saling memberi dan menerima bukan?
Aku senang kau bekerja, itu menunjukkan tanggungjawabmu sudah besar. Hanya saja, ketahuilah, aku hanya perempuan biasa yang tidak selalu bisa kuat, aku sekali saat juga rapuh dan membutuhkan kehadiranmu.
Aku bilang ataupun meminta darimu, aku tahu, kau tak pantas berlelah hati setelah seharian kau lelah fisik dan pikiran..aku hanya meminta pengertianmu saja.
Tapi apa daya, malam tadi, aku cemburu, cemburu dengan semua kesibukanmu, hingga aku pun menyuruhmu pulang.
Bukan ku tak mau lebih lama menemanimu, nyatanya kau sudah mengantarku pulang, hanya saja air mata kecewaku tak bisa kutahan karena ku tahu kau pulang secepat itu. Aku kecewa, mengapa secepat ini, mengapa sesingkat itu, mengapa begini, dan mengapa-mengapa lainnya. Semua kondisi yang membuatku lelah, begitu lelah semalam. Maaf aku lelah..sehingga aku membuatmu marah, membuatku merasa tidak dihargai, dan kecewa.
Kau pantas merasa demikian, kau selalu menang. Sehingga saat hatiku sedang begitu membutuhkanmu pun aku harus mengalah, dan kini kau menjauhiku.
Lelah, hatiku lelah dengan semua kesabaran dan pengertian ini, aku sungguh kesepian dan malam malam kesepianku ditebus 1 jam. Sebegitu sulitkah untuk kau sempatkan waktu...lebih dari 1 jam?
Kau bilang aku tak bersyukur, kau salah. Aku bersyukur karena setidaknya kau masih mau mengajakku dari rumahmu yang jauh.
Kau bilang aku membandingkan dengan orang lain, kau salah. Aku tak pernah membandingkan dengan siapapun sekalipun sedang begitu sulit bertemu denganmu.
Saat kau bilang ingin sendiri, aku takut. Takut kau akan lebih nyaman dengan kesendirianmu dari pada kebersamaan kita.
Maafkan aku, aku sungguh hanya sedang lelah menantimu..iya aku kalah, kalah dengan egoku sendiri.
Dan kau menang, menang merebut rasa rinduku, membuatnya menjadi rasa bersalah yang begitu dalam.
Sayangnya, kau tak di posisiku, sehingga kau tak bisa merasakannya, merasakan kekalahanku.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Menuju Terik Mentari

Hari yang panas, disaat matahari bersinar tepat di atas kepala manusia, terik di siang hari.
Pun jika kau tak mau menghadapinya, esok akan tetap muncul kembali, terik mentari selalu ada.
Waktu tak lagi se syahdu pagi, dimana sejuknya embun harus dilewati dan menuju ke hari yang lebih panas menantang.
Kau harus kuat, kau harus yakin bahwa terik mentari ini dinantikan banyak orang, meski kadangkau lupa bahwa tidak semua orang bisa menikmatinya.
Mau tidak mau, kau harus meninggalkan syahdunya embun pagi, lalu  berjalan di bawah terik mentari, untuk bisa melihat senja yang mengagumkan, ingatkan bahwa proses akan selalu berjalan, dengan atau tanpa kau.
Keraslah pada dirimu sendiri atau dunia yang akan menguasaimu.
Terdakang kita terlalu mengasihani diri sendiri hingga terlena pada kenyamanan, andai saja kau memahami lebih awal, bahwa lelah akan selalu beriringan dengan syukur, kau akan membelinya berjuta-juta rupiah mahalnya.
Bahkan orang yang tak pernah lelah pun diuji dengan sakit agar merasakan perjuangan.
Perjuangan adalah terik mentari, tapi tenanglah selalu ada sinar rembulan yang mendamaikan setiap lelah.
Pandangilah, resapilah, dan bersyukurlah karena kau berhasil menaklukan satu matahari di hari ini.

Minggu, 29 Mei 2016

Seperti Orang Asing

Seseorang dimanapun saat ini kau berada..
Aku ingin menyampaikannya, karena rasanya tidak mungkin kau dengarkan jika harus kukatakan secara langsung maupun tidak, mungkin dengan ini kau akan membacanya.

Aku tidak akan memulai dengan kata maaf, karena kata itu sudah tidak bisa lagi kau maknai sebagai sebuah tanda penyesalanku. Aku salah, iya, salah merespon tindakanmu, bukan aku tidak menghargai pertolonganmu, hanya saja dengan kekalutanku saat itu aku hanya berpikir bahwa kau sudah paham tentang kesulitanku yang dengan atau tanpa ada suatu masalahpun kau sudah tahu. Hari itu kau seakan tidak memahamiku, membuatku merasa kau tak lagi mau membantuku, saat aku berkata tidak bisa, sesungguhnya aku benar-benar sangat tidak bisa, bahkan untuk menjangkau kesana yang menurutmu dekat dan mudah. Akan lebih baik jika aku menolaknya, dan kau membawa kembali semua yang kau tawarkan untuk membantuku, hanya saja kau mungkin tidak sedang berada di posisiku, sebenarnya untuk meminta bantuan adalah hal yang sulit dilakukan, kau harus paham itu. Kesalahku ini  membuatmu marah karena merasa bantuanmu ditolak dan tidak dihargai, tapi yang ingin aku sampaikan adalah bagaimana jika kau harus memilih antara merepotkan orang lain atau melewatinya sendiri. Aku tak tahu bahwa kau sedang sibuk kala itu, dan membuat apa yang kau lakukan menjadi sia-sia.
Diam, senjata yang paling mematikan, aku harus menerka apa maksud dari diam itu, memilih untuk menunggu atau berusaha, membiarkan atau terus berusaha. Aku tak suka diam, apalagi didiamkan, kau pun harus paham bahwa kesalahku tak mengurangi sedikitpun dari apa yang kau punya, tak lagi membebanimu, tak pula menuntutmu, bagaimanapun kemarahanmu waktu itu, ingatlah bahwa kau harus bersyukur, karena tak harus melalui saat seperti aku.
Aku kini bagaikan orang asing bagimu, yangg tak lagi tahu perkataanmu, tak lagi paham maumu, dan tak bisa menjangkaumu. Teruskan saja jika kau inginkan itu, hanya saja kau tak akan pernah tahu bahwa ada hal besar yang salah kau pahami.

Sabtu, 30 April 2016

Perempuan Beruntung

Haloo semuanya, lama rasanya tak menyambangi lembar (apapun dengan fungsi sama) kosong ini, iya untuk apalagi kalau bukan untuk berbagi cerita.

Pertama aku tak ingin berpura-pura tidak bagagia karena dia mendapatkan kesempatan untuk pergi Umroh ke tanah suci, well sampai berita ini aku sungguh senang sekaligus merasa aku ini semakin jauh dengannya, bukan jauh dari segi jarak yang terukur dengan satuan meter, tapi jauh dalam arti pencapaian hidup dan status yang akan sangat dilihat oleh orang. Aku ini cuma orang dari keluarga biasa, tak ada yang bisa aku banggakan seketika ini, dan aku dipertemukan dengan orang yang begitu mudah mendapatkan segala kemudahan, iya dia. Aku mungkin hanya tidak siap untuk menghadapi kenyataan bahwa mungkin ada sedikit ataupun banyak hal yang akan berubah, bisa jadi sudut pandang dalam menilaiku, hatinya dalam mengukur bagaimana baiknya yang tepat untuk mendampinginya, atau mungkin kesempatan yang akan mempertemukan dengan beberapa perempuan lain yang lebih setara dengannya.
Jujur, aku merasa sangat beruntung dipilih oleh seseorang seperti dia, dengan segala yang ada dan melekat padaku, rasanya jauh dengan dirinya, kalau dalam Islam ada pernyataan yang mengatakan bahwa jodoh adalah cerminan dari diri kita, lantas aku ini sedang bercermin kepada siapa? akankah dia adalah orangnya atau bukan? entahlah...aku tak tahu mengapa pikiran seperti ini harus muncul kepadaku, menjadikanku kembali melihat siapa diriku sesungguhnya. Aku merasa tak pantas, ditambah tahun depan InsyaAllah orangtuanya akan pergi Haji, sementara orangtuaku ? ahh entahlah...kalau dalam Islam itu jodoh adalah dia yang tengah memantaskan diri untukmu, lantas aku ini apa bagimu? apa yang tengah aku persiapkan?
Aku kembali mempertanyakan kepada diriku sendiri, sungguhkan aku ini pantas bersanding dengannya? dia yang begitu jauh nasibnya dari nasibku? akankah ada takdir yang menemukan dua nasib yang berbeda ini ? sungguh aku sedang merasa iri dengan orang-orang yang bisa mengerti dia, apa yang menjadi passionnya, apa yang menjadi bidang yang disenanginya, tentu banyak yang kagum padanya, pemuda yang masih belia, pekerja keras, rajin beribadah, tentunya dia mendapatkan kemudahan dan keberuntungan...siapa yang tidak ingin bersamanya ? Untungnya aku tak tahu siapa saja yang menginginkannya, lagipula kalaupun aku dibandingkan dengan ukhti-ukhti di luar sana, aku tidak ada apa-apanya, aku ini cuma orang yang kebetulan menemani hatimu selama hampir 4 tahun belakangan, mungkin ini bukan hal yang membanggakan bagi para ukhti disana yang tentu punya segudang ilmu agama, akidah, dan paran yang menentramkan.
Ya Allah ...sesungguhnya aku tidak sedang tidak mensyukuri, aku hanya sedang bermuhassabah dengan diriku sendiri, Engkau sangat baik padaku, hingga aku dipertemukan dengan lelaki seperti dia yang membuatku selalu merasa beruntung. Hanya saja, pertanyaanku saat ini adalah, Engkau yang Maha membolak balikkan perasaan manusia, akankah menempatkan diriku di hatinya ? cintanya padaku adalah ujian tentunya, meskipun berwujud hal yang menyenangkan, tapi dari sini aku merasa sedang diuji.. ujian untuk memantaskan diri atau mengundurkan diri..sama-sama sulit bagiku.
Hari ini dia sedang perjalanan pulang ke Solo, sungguh sekali lagi aku katakan bahwa aku adalah perempuan beruntung karena bertemu dengan dia, tak lebih dari itu, yang perlu aku tahu bahwa keberuntungan tak selalu ada untuk kita bukan?
Sungguh, aku menyayanginya...aku mencintainya...dengan atau tanpa aku melihat bagaimana kami berdua dulu dan saat ini, semoga dengan apa yang aku rasakan mampu membawaku kepada keputusan yang tepat. Ini adalah dunia, dimana bukan hanya kami berdua dengan modal perasaan saja, namun ada banyak penilaian yang berlapis-lapir untuk menilai kami berdua, sungguh ini adalah kenyataan yang tak mungkin dihindarkan.
Untuk dirimu yang tengah aku sayangi hingga saat aku menuliskan semua ini, kau adalah lelaki baik yang kutemui, kau adalah sosok yang penyayang, pandai, taat, lagi pekerja keras, kau mengajarkanku untuk selalu optimis melihat hari esok, kau adalah lelaki yang bertanggungjawab, kau adalah lelaki beruntung, kau sosok yang disenangi banyak orang, kau tetaplah orang yang tengah kurindukan dengan atau tanpa kukatakan perasaan itu, entah semua akan tetap berjalan seperti ini, kau tetap jadi seseorang yang membuatku cemburu pada orang-orang yang bisa melihatmu setiap saat, melihatmu sholat, makan, berdiskusi, fokus bekerja, lelah di kantor, bercanda tawa, atau saat kau ternyata tengah ketiduran di meja kerjamu..sungguh aku cemburu pada semua itu. Cemburu itu datang dari orang yang tak mampu, benar saja..aku tak mampu menjangkau mu, entah suatu saat nanti jika Allah berkehendak, mungkin cemburuku akan hilang dengan cara aku bersamamu atau sebaliknya, yang jelas suatu saat nanti cemburu ini akan hilang atas ijinMu.
Sungguh...aku adalah perempuan yang beruntung karena bertemu denganmu..

Jumat, 28 Agustus 2015

Dulu dan Sekarang

Lama sekali tak merasakan kembali getar-getar hati yang dulu nampaknya tak pernah berhenti membuncah, ada saat dimana aku bukan siapa-siapa ada perlahan mendekat untuk menemani kepedihan hatimu kala itu. Aku pikir hanya akan menjadi semacam pertemanan biasa layaknya aku dengan temanku atau kau dengan temanmu, iya tentu saja kala itu hanya sebatas itu pikiranku.
Batas seakan semakin runtuk manakala kita terlalu jauh merasakan, dimana aku terlalu peduli dan kau begitu membutuhkan kepedulian itu. Aku hanya berpikir, tepatkah aku saat itu? tentu tepat, namun nyatakah aku kala itu atau hanya sebagai pengobat luka?.
Waktu perlahan membuka tabir yang telah lama coba kita sibak, iyaa..kita saling terjatuh pada perasaan yang sama, yang tentunya aneh dan tak terbayangkan. Rangkaian hati yang tertuang dalam setiap perihal kecil, ungkapan-ungkapan membahagiakan dan harapan-harapan yang begitu indah. Ahh namanya saja sedang kasmaran, semua serba indah, senyumku saja sampai sangat kau idam-idamkan. Kadang begitu konyol membacanya kembali, tapi kini aku begitu paham makna semua itu. Saat kau tak lagi menunjukkan atau mengungkapkan kebahgiaanmu bersamaku, sangat terasa sekali bahwa aku merindukan semua itu, masa-masa itu dan bagaimana kau saat itu.
Tentang semua semua kebiasaan aneh kita berdua, tentang bagaimana kau tampak gugup melihatku, saat aku malu memandangmu, ahh semua itu kecanggungan yang begitu jujur atas sebuah perasaan. Semua itu dulu, saat kau dan aku masih hangat-hangatnya merangkai kisah dan begitu semangat mengisinya dengan berbagai hal. Semua itu kenangan yang indah untukku.

Tepat di hari ini, aku kembali membacanya satu per satu dari timeline mu dari tahun ke tahun, perlahan tapi pasti membawaku ke alam masa lalu, saat kau dengan hati yang dulu, kemudian tersakiti lalu tak lama berbahagia. Kini terasa sekali, saat kau mungkin tak sempat lagi menatap timeline untuk sekedar membuat ungkapan tentangku, tentang kita, aku merasa absen dari hatimu. Aku mengerti satu hal, bahwa kadang kita mengingat sesuatu bukan hanya untuk melawan lupa tetapi untuk kembali merasakan sensasi-sensasi yang pernah ada. Seperti yang kulakukan sekarang, kau dulu begitu menghadirkanku sampai kau menunjukkannya meskipun dulu aku tak benar-benar bisa hadir di sampingmu. Aku senang, sangat senang bisa kembali merasakan getar-getar cinta, berfantasi bagaimana indahnya masa itu, dan karena semua keindahan itu aku berjanji akan mempertahankannya. Aku rasa kau pun merindukan kehangatan itu, kekonyolan kita dulu, dan betapa sederhanya kita menciptakan semua itu.
Benar apa kata orang, mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan. Aku dan kau kini tak lagi seperti dulu, tapi seharusnya kita bisa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kita seperti dulu kala, dan ternyata itu cukup sulit dilakukan. Kita harus saling mengalah demi tubuh yang lelah, saling mengerti demi agenda yang sudah mengantri, saling menunggu demi adanya sisa waktu, bahkan harus saling merindu dikala semua penat menganggu, semua itu kadang membuat kita tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam kala bersama, rasanya itu cukup jadi pengobat semuanya. Waktu yang kian singkat, kita hanya bisa saling memandang begitu dalam, wajah yang lelah menahan semua rasa dan begitu melihatnya ada di depan mata sangat dan amat menenangkan. Kesempatan yang semakin sempit, kita hanya bisa saling menggenggam erat, tanpa kata untuk saling menguatkan, tangan yang begitu merindukan rengkuhan kini hadir melengkapi tiap sela jari dan semua itu sangat berarti. Aku dan kau, tak sempat menanyakan bagaimana kita saling melalui hari yang panjang, melelahkan, kadang penuh godaan, tapi semoga hati kecil kita selalu terjaga.
Dulu..ada hati yang begitu sulit untuk kita miliki, sampai menunggu, bergolak perasaan, putus asa, harapan, emosi, optimis, semua hanya karena satu hati yang begitu menawan. Kini..saat hati itu bisa kita miliki seharusnya kita selalu menjaganya tetap hidup karena aku dan kau tak pernah ingin menyakiti bukan? aku dan kau sungguh bertemu karena keinginan yang sangat besar untuk menyayangi, kau dan aku saling berjuang dan dipertemukan. Bahagiaku bertemu dengan kau, sangat sangat bahagia baik dulu maupun sekarang.

Kamis, 25 Juni 2015

Senandung malam

Hai kekasih, yang sedang jauh disana
Sehatkah kau? Baikah hatimu ? Rindukah kepadaku?
Ahh tentu saja hanya pertanyaan yang terlalu egois, untuk apa aku menanyakannya?
Semuanya hanya akan membuatku menangis sendirian,
Sepinya jika kau tak hadir sehari saja.
Tak ayal pikiran ini begitu baik menghibur hati yang sedang merindu
Meski kadang pikiran ini kejam meracuni hati tuk berprasangka buruk
Hati, kau yang paling jujur merasa, sabarlah agar tidak lagi salah mengira
Toh kau memang seharusnya tenang, tak perlu mencemaskan seseorang
Lebih baik kau menikmati indahnya hari ini, bersihnya malam ini dan merangkai cerita indah tuk esok hari
Siapa tau, kala senja nanti pangeran hatimu datang menyapa dengan penuh kerinduan.
Dia orang yang sedang lelah, sedang mencari ketenangan, hidupnya keras, waktunya terbatas
Dia membutuhkan hati yang setia menanti dengan penuh senyum dan kasih sayang
Kaulah tempatnya kembali tenang...sabarlah hatiku, akan ada masa demikian untukmu.
Masa dimana kau begitu dibutuhkan olehnya, kekasih yang percaya hanya kau tempat ternyaman baginya

Rabu, 25 Februari 2015

Nada Sumbang




Syair ini tak lengkap tanpamu
Dawai pun tak bisa melengkapi kekurangan ini
Sumbang
Memang hanya nada sumbang dari syair dan dawai itu
Sumbang
Irama sumbang yang mengisi hidupku
Tanpanya aku hanyalah ruang hampa yang tanpa irama
Sekalipun sumbang, irama itulah yang menghidupkanku
Menemani setiap gerakan kepalaku saat menikmatinya
Menenangkan saat mata terpejam tenggelam dalam alunan
Menggema meskipun kala aku terlelap
Sumbang
Kadang aku ingin memperindah irama itu
Membuatnya terdengar lebih ceria untuk didengar
Ahh, aku disangka tak menikmati sumbangnya irama itu
Tersadar, bahka irama tak selalu mengalun ceria
Aku hanya mendapat irama sumbang
Irama yang mengalirkan jiwaku untuk terus menikmatinya
Menuntunku menyusuri malam dengan alunannya
Kaulah nada itu, dawai yang tak lengkap dan bernada sumbang
Ketidaksempurnaanmu yang menghidupkanku.

Badai berkecamuk ini membuatku berantakan, perasaan tak tertahan yang tak bisa ku ungkapkan apalagi kutunjukan padamu, mungkin aku naif, beginilah saat aku hanya memikirkan perasaanmu. Tak peduli betapa pedih yang aku tahan, yang penting kau tersenyum dan bahagia. Bukan seperti ini seharusnya, ada saat dimana kau dan aku harus tanpa sekat dan benar-benar telanjang dengan segala kecacatan yang kita punya. Tak perlu menutup mata dengan semua ini, kita hanyalah insan yang tak sempurna dan saling bertemu. Tak perlu munafik, akupun melihatmu karena keindahan dan kebaikanmu, karena kau yakin semua orang ingin terlihat indah di mata orang lain. Keburukanmu bukanlah alasan bagiku untuk meninggalkanmu, karena aku hanya ingin hidup dengan keburukanmu.
Wahai seseorang yang selalu membuatku rindu, engkau pasti tertidur dengan gundah mengerti bagaimana aku yang mengeluh dan tak bisa menceriakanmu. Kelelahanmu sepertinya tak terbayarkan olehku, tapi ketahuilah kau disana, aku disini sedang berusaha menerima keadaan ini. Kau yang disana, sadarlah bahwa kau terlalu banyak menyimpan, bahkan untukku. Kau bagaikan singa yang menunjukkan taring saat kau terancam, sungguh dengan kau terlihat melindungiku aku sangat senang. Tapi haruskah aku membuat diriku terancam agar tahu bagaimana kau melindungiku? ketahuilah bahwa kau tak perlu selalu menunjukkan taring untuk bisa mendapatkan pengakuan dariku, justru dengan kelembutanmu aku takkan pernah pergi darimu. Kau yang disana, yang namanya selalu ku sebutkan dalam doaku, janganlah terlalu banyak menyimpan untukku, kadang dengan membaginya kau kan dapatkan lebih banyak.
Kini, aku hanya bisa menikmati tarikan nafas dan memejamkan untuk bisa beringingan bersama kepenatan hati ini. Aku selalu berharap esok adalah hari bagiku, dan tak pernah berhenti untuk berharap demikian. Aku hanya ingin menjalani ini seperti anak kecil yang bermain bersama, tak perlu malu untuk saling menertawakan, tak usah takut untuk menangis saat disakiti, tak perlu ragu untuk saling menahan, dan tak perlu sungkan untuk mengajak, semua ini kan permainan yang  sesungguhnya selalu kita inginkan bukan?

Mendayung di antara pusaran air


 
Memandangmu dari kapalku, sejenak tapi dalam
Detik disaat semua menjadi kosong
Berkecamuk tak terkendali
Melihatmu dalam pusaran air yang bisa kapan saja menenggelamkanmu
Sepersekian waktu, hati berdesir
Ingin sekali mengambilmu tuk pergi
Tapi aku tak bisa seceroboh itu,
Waktu yang memanas,
Berusaha menusukkan pandangan tegar
Menundukkan pandangan ini
Menelan ludah dan menahan air mata
Tersenyum dan menghela napas panjang
Meredam semua itu atau kapalku kan goyah
Tahukah kau, aku menahannya hingga kini
Membiarkanmu di pusaran air yang bisa muncul kapan saja
Karena belum saatnya kita ke tepian,
Akan melewati banyak pusaran air
Aku maupun kau
Berjuang menjaga perahu kita ke tepian.
Kadang lelah mendayung, tapi sejenak keindahan tepian kembali membangkitkanku
Aku lelah menjagamu yang mendayung di antara pusaran itu..
Kemudikan kapalmu, hindarilah pusaran itu
Aku ingin ke tepian bersamamu

Rabu, 05 November 2014

wahai hatiku..



Wahai hatiku ...
Berat mungkin bagimu untuk menjauhi apa yang membuatmu nyaman dan bahagia. Menjalani sebuah fase yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya memang sebuah hal yang berat sekali untuk dilakukan, menjadikannya sebagai sebuah ketidak adilan yang harus diterima atau menjadi sebuah kisah yang sulit untuk dibayangkan.
Kau selalu bergetar setiap kali mendengar namanya, menitikkan air mata kala rindu terlalu dalam terhujam, mendekap apapun yang sekiranya dapat mengingatkan kepadanya, setiap malam aku tau kau demikian, hatiku..
Ingatkah kau saat dia menghibur perasaanmu, memberimu sejuta rasa sayang yang menenangkan, kejutan sederhana yang selalu membekas di ingatan, pelajaran-pelajaran hidup yang dilalui bersama, lagu yang kalian nyanyikan bersama, usaha dan perjuangan untuk tetap melihat satu sama lain tersenyum? Ingatkah itu? Masih sangat segar di ingatanmu bukan..
Kini, kau harus sedikit bersabar, menerima dan menahan apa yang kau rasakan, kau impikan dan kau ingin sampaikan. Keadaan sedikit berubah saat dia menginginkan kau untuk memaknai hubungan adalah sebuah komitment. Hatiku.. mempercayai hal itu memang tidak mudah, kau hanya sebuah perasaan dari manusia biasa yang jauh dari kata sempurna, apapun bisa menjadi sebuah kesalahan dan sumber ketidakpuasan, hanya berbekal komitment dan kepercayaanlah kau bisa melaluinya hatiku..
Sudahlah..jangan mengangis hatiku, itu hanya membuatku semakin berat untuk melaluinya, tak perlu menangisi hal ini, lihat saja, buktinya kau bisa 4 hari ini melalui situasi ini dengan tetap tersenyum. Kau sangat kuat hatiku, ikhlaskanlah dan percayalah bahwa sikap ini adalah yang terbaik yang Allah tunjukkan kepada umat Nya, menuntunmu keluar dari lembah kemaksiatan yang bisa saja menyerang kalian kapanpun, hatiku.. bersabarlah..kau tidak berubah,,kau tetap mencintainya, menyayanginya dan menunggunya datang di waktu yang sangat tepat.
Hatiku, nikmatilah hari-hari mu..ada kawan, keluarga, dan pekerjaan atau kesibukan yang akan selalu mengisi hari-harimu, membuatmu menjadi hati yang kuat, bijaksana dan siap untuk bertemu dengan dia. Ketahuilah hatiku...dia dengan hatinya sedang melakukan hal yang sama, mengupayakan agar dia pantas saat menemuimu kelak, menahan dari godaan saat kau jauh, menumpuk kerinduan yang tidak terhingga untuk terus menggetarkan hatinya. Sama bukan? Kau tak perlu merasa berjuang sendiri..dia sama denganmu, dan aku, lihatlah aku. Aku akan selalu tersenyum untukmu..agar kau tak tampak rapuh dengan semua perjuanganmu, aku akan membawamu ke berbagai kegiatan agar kau tak kesepian, aku.,aku akan selalu melihat fotonya untukmu jika kau rindu, dan aku...aku akan selalu berusaha untuk melihatnya dari jauh..agar kau bisa melihatnya, melihat bagaimana wajahnya sekarang, sudah panjangkah rambutnya, bertambah buncitkah dia, atau mungkin kau ingin melihat apa yang dia kenakan di hari itu? Tenang saja hatiku..aku adalah orang yang tidak mudah menyerah untuk membahagiakanmu..aku akan selalu berusaha melakukan semua itu, asal satu hal yang kau harus lakukan. Percayalah. Percaya bahwa dia adalah orang yang bisa kau percaya..itu akan sangat membahagiakanmu..
Hatiku...

Hari Setelah Kemarin

Hari selalu berganti, yang kemarin kemudian sudah berlalu lantas berganti menjadi hari ini, pergantian tersebut secara jam hanya terus menun...